Wednesday, October 9, 2013

We Are a 'Secret Admirer'

Pagi yang menyebalkan. Gerutuku dalam hati. Rasanya aku ingin cepat-cepat mengakhiri masa-masa sekolahku ini. Hari ini adalah hari dimana pelaksanaan ulangan kimia dimulai. Jujur saja, aku tidak bisa dengan pelajaran yang rumit ini. Ah rasanya aku ingin bolos sekolah saja. "Ra, cepetan atuh dandannya. Lama banget, nanti kesiangan bagaimana?" teriak mamahku dibawah sana. "Iya. Ma." Langsung saja buru-buru aku ambil tasku dan berjalan ke meja makan.

Sampai juga aku disekolah. Aku edarkan ke keliling sekolahku ini, memang tampak ramai karena sepertinya sebentar lagi bel akan berbunyi. Benar saja, bel dengan nada khas lagu anak-anak ini berbunyi nyaring. Segera saja aku masuk dan duduk dibangku yang disediakan. Aku belum terlalu lama menempati sekolah ini, baru sekitar satu semester. Sekarang aku masih duduk dibangku SMA kelas XI. Aku pindahan dari sekolah di Jakarta.
"Ra, telat amat. Kimia loooh..." ledek Mika. Mika ini salah satu sahabat perempuanku yang tomboy, katanya. Ya, tapi tetap saja dia masih menyukai laki-laki. Dan yang kalian perlu tahu. Mika ini alat kosmetiknya banyak dan lengkap banget. Ya emang gayanya aja 'kelaki-lakian' gini.
"Duhh, kesiangan nih gue, Mik."
"Kok bisa? Nggak ada yang jemput sih, jadi males pergi ke sekolah deh, hahaha."
"Ehh, enak aja. Ada kali yang antar-jemput gua."
"Iya deh tau. Supir lu kan?"
"Ehh, yaa liat aja nanti. Sekarang masih supir, besok-besok pacar." jawabku kesal, setengah meledek
"Gayaaa. Siapa yang mau pacaran sama orang yang nggak peka kayak lu?"
"Liat aja nanti."

Tidak terasa bel pulang sudah berbunyi. Anak-anak banyak berhamburan kesana dan kemari. Huh. Disana aku melihat Fadil bersama teman-temannya. "Keliatannya anak itu lagi seneng banget." kenapa aku jadi mendadak kepo kayak gini?
"Ra, bengong aja" tiba-tiba Mika datang sambil mencolek tanganku, tentu saja aku kaget.
"Hm, Mik. Fadil..." raut wajahku berubah sedih, ketika aku mendengar bahwa Fadil telah menjalin hubungan dengan adik kelasku. "Udah ah, Ra. Balik ayuk. Jangan nangis disini. Cengeng deh" bentak Mika seraya menarik lenganku. Mika tahu apa yang ingin ku katakan, karena dia juga mendengar Fadil bercerita. Isak tangisku terdengar oleh Mika. Mika tidak berani menanyakan yang tidak seharusnya Ia tanyakan. Karena dia tahu bagaimana perasaan sahabatnya. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobil Yaris yang dikemudikan oleh Mika. "Ra, gue tahu kok lu udah jadi secret admirernya Fadil dari awal masuk. Pantas aja Fadil nggak tahu perasaan lu kayak apa. Orang lu aja keeping it all secret gitu. Udah, Ra. Nangis aja kalau emang lu pengen nangis. Gua ada disini kok." Mika yang merasa kasihan, membelai rambutku begitu lembut. Yang kalian harus tahu, walaupun Mika ini tomboy tapi Mika mempunyai rasa peduli yang cukup tinggi terhadap sesama.

Sesampainya aku dirumah. Aku hanya bisa menulis semua perasaanku di diary book hadiah yang mamah kasih kepadaku setiap ulang tahun. Mamah sangat tahu aku suka menulis, makanya beliau selalu membelikanku diary book setiap aku merayakan hari lahirku.
dear diary,

aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan ini melalui lisan. tapi setidaknya, aku sudah berusaha memberi petunjuk bahwa aku menyukainya, bahkan menyayanginya lebih dari seorang teman. sekarang, dia telah bersama yang lain. mungkin bersama gadis impiannya itulah dia bisa merasakan yang namanya bahagia. bukan dengan aku, melainkan dengan 'dia' gadis pujannya.
kau tahu? aku tidak pernah mengubah perasaanku terhadapmu. kalaupun aku mau, aku tidak bisa. dear you, I love you, with all that I've got a secret...

Pagi ini rasanya aku ingin bermalas-malasan saja dirumah. Aku tidak ingin melihat pasangan baru yang bermesraan di sekolah. Tapi tetap saja aku harus masuk sekolah karena hari ini aku ada ulangan matematika. 
Disana, aku melihat sosok Fadil dan teman-temannya sedang membicarakan hal yang sepertinya menarik. Huh, aku belum siap untuk bertemu dengannya setelah aku divonis patah hati karenanya.
"Ra, udah belajar?" tanyanya mengagetkan ku. Kalau saja aku punya jurus menghilang, aku pasti akan menggunakan jurus itu pada saat seperti ini. "Hm... udah, Dil. Kenapa emangnya?" jawabku sekenanya saja. "Ajarin gue tentang ini dong," Fadil menyodorkan buku matematikanya dan pensil. Ya, memang setiap jika Fadil ada yang kurang paham tentang pelajaran matematika dia selalu bertanya kepadaku. Aku menjelaskannya dengan detail, rinci, dan singkat. Sungguh, aku tidak ingin berbicara dengannya. "Oke, makasih, Ra. Makin pinter aja," gombalnya. Aku hanya tersenyum canggung mendengar apa yang Ia katakan.

Di parkiran aku melihat Fadil dengan kekasih barunya sedang bersenda gurau. Aku yang ingin mengambil motorku, ku urungkan saja niat itu karena aku tidak ingin tiba-tiba muntah di tempat umum karena cemburu. Ya, aku cemburu. Akhir-akhir ini komunikasiku berkurang dengan Fadil. Memang, dulu aku dan dia bisa dianggap 'sahabat' yang sering hangout bareng, belajar bareng, sekelompok bareng. Serba barengan deh. Kami berkomunikasi di sekolah, di media sosial, di handphone seperti orang yang sudah menjalin suatu hubungan. Bahkan ketika salah satu diantara kita ada yang tidak membalas sms, bbm, atau sebagian pesan teks lainnya, kita pasti akan menegur dengan cara menelponnya, atau kerumahnya. Ah, aku rindu semua kenangan manis itu. Seperti orang yang menjalin suatu hubungan bukan? Walaupun berlebihan, namun itu hal yang sangat konyol dan berkesan bagiku. Nggak pacaran aja kalau ada yang nggak bales sms main kerumah, saking khawatirnya kali yaa? Gimana kalau pacaran?

"Ra, kenapasih akhir-akhir ini lu sering bengong sambil nulis-nulis nggak jelas gitu. Kesambet apaan sih, Ra? Apa masih galauin si Fadil yaa?" Tanya Mika dengan panjang lebar, aku mendengus kesal karena Mika menyebutkan nama Fadil terlalu keras tadi. Aku takut tiba-tiba Fadil mendengarnya. "Pelan-pelan dong, Mik sebut nama doinya. Kalau kedengeran gimana?" Aku sangat kesal dengan perbuatan Mika yang seperti tadi. "Ra, biar dia sadar dan peka kalau selama ini lu suka, bahkan sayang ama dia!" Bentak Mika, membuat lelehan air mata di pipiku makin deras. "Mik, nggak seharusnya gue nangis disini..." Aku berlari sekencang mungkin menuju toilet, sambil menutupi mukaku yang deras dengan lelehan air mata agar tidak ada satu orang pun yang tahu aku menangis. Apalagi karena Fadil, cowok keren yang banyak dipuja-puja wanita.

Sudah tiga hari ini aku tidak melihat batang hidungnya Fadil. "Kemana dia?" Tanyaku dalam hati. Seperti kabar burung yang aku dengar, Fadil tidak masuk karena sakit. Ada lagi yang bilang karena orang tuanya ingin cerai. Aku tidak mengetahui mana berita yang benar. Semoga saja tidak keduanya. Namun, kenapa dia tidak masuk ke sekolah selama tiga hari berturut-turut? Alfa. Tanpa kabar. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada 'gadisnya' Fadil. Nama gadis itu Olan, dia sekarang menginjak bangku SMP kelas tiga.
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah SMP. Karena sekolahku ini swasta, tidak jauh aku harus bisa sampai ke tempat anak kelas SMP belajar. Disana aku melihat Olan sedang mengetik sesuatu di handphone yang Ia genggam. "Maaf. Olan ya?" Tanyaku, dia tersentak kaget. "Eh, iya kenapa, kak?" Jawabnya gugup. "Kamu pacarnya Fadil kan?" Sekilas, ada raut wajah yang berbeda pada diri Olan, kenapa anak ini? Bukannya senang nama kekasih tercintanya disebut-sebut malah tampak sedih seperti itu. "Hm, kenapa ya?" Jawab Olan dengan nada rendah dan serak, seperti menahan sesuatu. Aku tidak langsung menjawab, karena sedari tadi aku memperhatikannya. Seperti ada masalah, namun apakah masalahnya dengan Fadil?
"Fadil kemana ya beberapa hari ini dia nggak masuk ke sekolah. Dan guru-guru banyak yang nanyain kabarnya Fadil, kamu tahu nggak?" Diam, dan sunyi. Terlihat raut wajah sedih pada diri Olan. "Eh, kamu kenapa? Aku salah ya nanya sama kamu?" Aku tidak mau melihatnya meneteskan air mata tanpa aku tahu sebabnya. "Nggak kak. Kakak nggak salah kalau nanya sama aku." Olan meneteskan air matanya. Ada apa anak ini? Mengapa Ia menangis waktu ditanyai tentang 'Fadil'?
"Cerita sama aku, kamu kenapa? Dan, Fadil. Dia kenapa nggak ada kabar? Aku udah coba telpon tapi nggak pernah diangkat." Sungguh, aku mengkhawatirkan keberadaan Fadil yang sekarang entah dimana. "Kak, kalau kakak ingin tahu Fadil dimana. Nanti pulang sekolah aku tunggu diparkiran mobil ya. Aku boleh minta pin bb kakak?" Aku tidak mengerti ada apa dengan anak ini?

Sore itu juga sepulang sekolah aku diajak Olan untuk bertemu Fadil. Dia menceritakan tentang hubungannya dengan Fadil. Awalnya memang baik, sekitar tiga bulan Ia menjalin hubungannya dengan Fadil. Namun Olan tidak mengerti sepertinya ada yang salah pada diri Fadil. Olan bilang bahwa Fadil sebenarnya menyukai gadis lain, dan Olan tidak tahu siapa gadis itu. Ketika Fadil jujur tentang perasaan yang sesungguhnya kepada Olan. Fadil tidak masuk sekolah tanpa ada kabar. Aku makin tidak mengerti kenapa gadis ini terus menangis terisak-isak seperti itu.
Aku tercengang karena Olan mengajakku kerumah sakit. Untuk apa? Apakah orang tua dia sakit? Atau orang tua Fadil yang katanya ingin sempat bercerai? Atau.... Ah, aku tidak sanggup untuk menyebutkannya. Aku tidak mau berpikiran bahwa Fadil lah yang menempati ruang rawat inap disini. Mengapa perasaanku tidak enak?
Olan masih tetap menangis, dan hanya menangislah yang Ia lakukan sepanjang perjalan. Aku tahu betul Olan sangat menyayangi Fadil. Sesampainya di kamar perawatan untung pasien yang sakit, disana aku melihat sesosok orang terbujur lemah tak berdaya. Fadil?! Apa yang ku lihat itu Fadil?! Sedang apa dia? Apakah dia sakit? Bodoh. Aku tidak tahu jika Fadil sakit, karena saking sakit hatinya aku tidak peduli lagi dengannya. Bodoh. Aku menghakimi diriku sendiri saat melihat Fadil terbujur lemah seperti itu.
"Ara... ngapain disini? Olan, kenapa kamu ajak Ara?" Sepertinya Fadil tidak suka aku kesini, mungkin sebaiknya aku pergi. "Maaf, tadi gue diajak Olan untuk liat kondisi lu. Kenapa nggak ada yang hubungin gua kalau lu sakit sih?" Nadaku sedikit membentak, namun aku pelankan lagi suaraku karena ku tahu ini rumah sakit. "Dil, kasian kak Ara udah coba ngehubungin kamu tapi nggak bisa. Dia khawatir, Dil sama kamu." Setengah menangis, akhirnya Olan memutuskan keluar dan membiarkan Fadil menjelaskan semuanya kepadaku. "Dil, lu sakit apa?" Pertanyaan yang sudah ingin ku tanyakan waktu tahu bahwa Fadil lah yang terbaring di kasur rumah sakit ini. "Bukan urusan lu" Jawabnya dingin. "Dil, gue nggak tahu salah gua apa. Yang jelas gue khawatir, Dil sama lu. Gue nggak mau lu kenapa-napa." Akhirnya meneteslah air mataku. Fadil menoleh, dan mencoba meraih jemariku. "Ra. maaf kalau selama ini gue mencoba menjauh. Tapi itu karena perasaan gue, Ra. Karena hati." Fadil menggenggam jemariku, ku rasakan dinginnya tangan Fadil, mungkin karena terlalu lama diruangan ber-AC seperti ini. "Lu bicara apa sih, Dil? Gue nggak ngerti. Dan kenapa lu bilang suka sama orang lain setelah lu udah punya Olan? Kenapa, Dil? Kasian kan Olan." Sekali lagi, walaupun aku cemburu dengan Olan. Namun aku tidak akan tega melihatnya tersiksa dan terjebak dengan perasaannya sendiri. "Gue suka sama seseorang, Ra. Seseorang yang udah lama juga suka sama gue" Aku tersentak, kaget. Oh God, wanita mana lagi yang Fadil suka?. "Terus gimana dengan perasaannya Olan? Lu nggak mikir ya, Dil." Tetap saja aku kesal melihatnya mempermainkan gadis secantik Olan. "Gue putus baik-baik kok, Ra. Olan juga ngerti. Awalnya gua putus bukan karena gadis yang gue suka. Tapi..." Aku melihat guratan sedih di wajahnya. Mengapa? Karena apa?. "Karena penyakit gue, Ra." deg.deg.deg. Sakit apa selama ini kamu Fadil? Kenapa aku bisa tidak tahu? "Lu... Lu sakit apa emang?" Tanyaku dengan nada khawatir. "Kanker, stadium akhir." Dia hanya tersenyum. Tunggu. Ya, dia benar tersenyum. Aku rasanya ingin menangis sejadi-jadinya, namun ku urungkan karena aku tidak mau memperlihatkan kesedihanku kepada orang yang seharusnya mendapatkan semangat dariku. "Dil... Kenapa lu nggak pernah bilang sama gue?" Akhirnya pertahananku pun tidak kuat, aku menangis sejadi-jadinya di ruangan itu. "Gue mau jujur sama lu, Ra. Sekarang." Aku masih memperhatikannya, menunggunya selesai bicara. "Gue sayang lu, Ra" Aku melotot, kaget. Antara senang, sedih, kecewa karena ternyata gadis yang Fadil suka adalah aku. Ya, aku. "Dil, nggak salah ngomong?" Aku masih belum percaya. "Serius, Ra. Tapi gue selalu urungkan niat gue buat mengungkapkan semuanya, sampai pada akhirnya tubuh gue lemah nggak berdaya karena penyakit yang gue punya. Maaf, Ra. Gue baru bilang sekarang, gue tahu gimana perasaan lu waktu tahu gue jadian sama Olan. Gue tahu, Ra. Sekali lagi maaf. Gue gamau tiba-tiba nggak ada waktu kita pacaran, Ra. Makanya gua nggak berani nembak lu." Tiba-tiba Fadil meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya aku melihatnya meneteskan air mata seperti ini. Aku sangat tahu Fadil adalah lelaki kuat yang berani terhadap apapun. Namun, karena beban yang ditanggungnya mungkin sudah banyak, maka Ia menangis sejadi-jadinya di ruangan ini, berdua denganku. Fadil mempererat genggamannya "Ra, lu masih nyimpen perasaan itu untuk gue kan, Ra?" Tanya Fadil, aku hanya bisa mengangguk lemah. Tidak seharusnya aku seperti ini. "Gue juga, Ra. Masih sama perasaan ini kok. Misalnya aja gue nggak ada, jaga diri baik-baik ya, Ra. Gue titip pesan sama orang yang bakal milikin lu nanti. Jaga Ara baik-baik ya, dia bidadari surga gue." Fadil tetap tersenyum, dia tampak bersemangat walau dia tahu waktunya hidup sudah tak lama lagi. Mungkin Fadil percaya kepada keajaiban atau mukjizat. "Dil, ngomong apasih. Udah ah, jangan selemah ini. Gue nggak mau ngeliat orang yang gue sayang selemah ini. Semangat, Dil. Lu pasti sembuh" Aku mencoba menyemangati Fadil, walau aku tahu diriku terlalu lemah untuk itu. Menyemangati diri sendiri saja tidak bisa. "Ra, I love You. Don't need a reason." Aku tertegun. Akhirnya aku memeluk Fadil dengan hangatnya cinta yang selama ini aku rahasiakan. "Dil, apa lu juga jadi pengagum rahasia gua dulu? Sama kaya gua?" Tanyaku, Fadil malah senyum geli. Aku rindu senyum itu, Dil.. "Yap, we are a secret admirer." Tanpa sadar Fadil mengecup keningku cukup lama. Aku hanya bisa merasakan darah ditubuhku mengalir lebih cepat, merasa hangat walau aku tahu diruangan ini dinginnya begitu menusuk ke dalam tubuhku. Hangat sekali dalam dekapan Fadil. 
"Ra, coba tolong cetak yang ada disini. Semuanya ya."
"Ini apa, Dil?"
"Udah, nanti kamu juga tahu."
Langsung saja aku pamit kepada Fadil untuk mencetak semua yang berada dalam flashdisk nya. Setelah ku cetak dan ku amati. Ini kan fotoku?! Kenapa Fadil mendadak seperti paparazzi seperti ini?
Aku terkekeh geli melihat foto-fotoku yang alami seperti ini. "Tablo juga ya gue? haha." Tidak lama kemudian ada telepon dari nomor tak dikenal.
"Halo?"
"Halo, kak... Kak Ara dimana sekarang?"
"Kakak abis cetak foto, kenapa, Lan?"
"Kenapa nggak di read bbm aku?"
"Hp aku silent tadi modenya. Kenapa sih kamu?"
"Kak, cepet kerumah sakit. Keadaan Fadil kritis, kak. Dia... Dia... Dia sekarat"
Aku tidak bisa menjawab lagi telepon dari Olan, segera saja aku cari taxi untuk mengatarku ke rumah sakit. Namun nihil, taxi tidak ada yang lewat di jalanan ini. Akhirnya aku mencoba memutuskan untuk berlari dan berlari, aku sudah tak peduli kakiku mau berdarah-darah atau patah sekalipun. Aku ingin menyemangati Fadil. Aku tak ingin terlambat.
Akhirnya aku sampai juga di rumah sakit dengan jalan setengah pincang. Sesampainya di kamar rawat Fadil. Aku melihat Ayah dan Ibunya ada disana mendampingi Fadil. Mereka setengah tersenyum kepadaku.
"Baguslah, Nak kalau kau datang. Fadil daritadi mnggumamkan namamu terus." Tersenyum, namun meneteskan air mata. Itulah yang aku lihat di wajah Ibunda Fadil. "Dil, bertahanlah ada aku disini, Dil." Aku menangis, memohon-mohon, namun Fadil tetap memejamkan matanya tanpa bergerak sedikit pun. Rasa khawatir makin menjalar di sekujur tubuhku, aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya. Tuhan, tolong selamatkan lah Fadil. Akhirnya aku dan orang tua dari Fadil disuruh menunggu di luar oleh dokter. Di barisan tempat duduk di depan kamar rawat Fadil, disana terlihat Olan yang sedang menangis.
"Olan, maafin kakak ya. Aku nggak tahu kalau Fadil suka sama aku. Sumpah, Lan. Aku nggak bermaksud ngerusak hubungan kamu dengan Fadil. Nggak pernah terpikir sama aku, Lan. Sungguh." Olan tetap menangis. Dengan refleks aku memeluknya, dia membalas pelukanku dan menangis terisak-isak. Aku tahu bagaimana perasaannya. Karena perasaan Fadil yang berubah dan penyakit Fadil. Aku merasa bersalah, tapi Olan menjelaskan asal Fadil sembuh kalau bisa mencintai aku. Dia rela. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatnya seperti ini. Namun, aku tahu bahwa Olan tidak mau kehilangan Fadil sebagai temannya.
Dokter keluar dengan guratan kecewa. Aku mohon, katakan bahwa Fadil baik-baik saja. Aku mohon.
"Maaf, Pak, Bu. Saya sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawa Fadil. Namun Allah lebih sayang kepadanya. Fadil telah dipanggil yang Maha Kuasa." Sejenak aku terdiam, lalu aku berlari menghampiri Fadil. Memeluknya. Mencium keningnya, bahkan bibirnya. "Fadil... Aku mohon sadarlah. Aku sangat mencintaimu, Dil. Sadarlah...." Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, namun Allah memang lebih sayang dengan Fadil ketimbang aku yang sayang dengannya saat ini. Aku mencoba ikhlas, Olan juga tampaknya pupus. Aku tahu, aku dan Olan juga keluarga dan kerabatnya pasti tidak ingin ditinggalkan oleh sosok Fadil. Fadil... bahagialah disana, temukanlah bidadari surgamu yang sesungguhnya...

Hari ini tujuh hariannya Fadil meninggal. Aku masih ingat saat itu perasaanku kacau balau. Hancur berantakan. Namun aku yang sekarang bangkit dan tegar. Terlihat disana ada Olan yang sudah bisa tersenyum, walau aku tahu perasaannya masih hancur dan merasa kehilangan setelah ditinggal Fadil.
"Kak Ara."
"Hai Olan, gimana kabarnya?"
"Baik kak. Kak.. kakak sangat beruntung bisa menjadi gadis yang dicinta Fadil untuk terakhir kalinya."
"Hm, dia mencintai kita semua Olan. Dia juga pasti mencintaimu."
"Iya, sebagai temannya. Bukan bidadari surganya." Tampaknya Olan telah mendengar pengakuan Fadil pada saat itu.
"Olan, kita sama-sama kehilangan Fadil."
"Iya kak, aku minta maaf."
Lalu aku berlari meninggalkan kerumunan disana setelah yassinan dan berdoa. Aku pergi berlalu ke tempat pemakaman Fadil. Senja mulai hadir menemaniku. Air mataku ikut menemaniku ke tempat pemakaman Fadil. Aku berdoa, lalu aku tuliskan sebuah surat disana. Lalu ku kubur bersama Fadil dan kenangan kita.

dear Fadil,

aku sangat beruntung telah mendengar pengakuanmu. semoga harimu lebih baik di surga ya, Dil. aku tidak menyangka bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama. namun mengapa kamu libatkan Olan di antara kita, Dil? sungguh malang nasib gadis periang itu. tapi yang jelas aku maupun Olan serta keluarga dan kerabatmu sudah ikhlas atas kepergianmu. sudah bertemu berapa bidadari surga disana, Dil? Ah, aku tidak peduli. yang jelas aku sangat mencintaimu. dan sekarang dengan semua fakta, dan sudah tidak bisa dirahasiakan lagi. we are a secret admirer, hahaha konyol. i love you, don't need a reason. itu katamu kan, Dil? I love you too, Dil. don't need a reason :)

No comments:

Post a Comment