Bukan, bukan aku bermaksud bijak, aku hanya ingin bilang, aku tahu rasanya disakiti hingga nafas tercuri ke dasarnya, aku tahu rasanya dikhianati hingga darah mendidih ingin dikeluarkan dari nadi, aku tahu rasanya diduakan hingga mual membayangkan masa lalu, aku tahu rasanya jadi seseorang yang duduk diam di titik nadir melihat waktu tidak bergerak. Aku pernah jadi kamu. Solusi konyolku waktu itu adalah menyerahkan diri pada tweets memaki dan stalking tiada henti. Sampai aku sadari, apakah mengasihani diri di khalayak ramai membuat semuanya jadi lebih baik? Apakah yang aku rindukan benar-benar dia atau dia di masa lalu? Bukankah masa lalu selalu nampak lebih dramatis ketika terputar di kepala dibandingkan aslinya?
Aku mulai merangkak maju, lebih baik begitu daripada duduk diam meratapi.
Tahun demi tahun berlalu, dan kamu tahu sesuatu? Hidup ini indah ketika kita bisa melihat segala sesuatu dari persepsi berbeda. Aku bertahan hidup, belajar menjadi lebih baik, semoga kamu pun begitu, Kawan...
No comments:
Post a Comment