Mungkin kata banyak orang butuh yang namanya 'kehilangan' untuk menyadari arti sebuah 'kehadiran'. Butuh yang namanya 'berkorban' untuk memahami arti sebuah 'pengorbanan'. Butuh 'kamu' untuk menyadari arti sebuah 'cinta yang semu'. Cinta yang tak nyata. Cinta yang seharusnya tidak pernah ada, tapi malah timbul meletup-letup didada. Aku mengenalmu, sangat mengenalmu. Dan jelas saja aku tahu tidak ada kata mustahil jika aku tidak tahu kebiasaanmu.
Aku tidak mengerti apa artinya cemburu, tapi menurutku cemburu itu adalah saat kau sedang menyaksikan live show dimana peran utamanya adalah 'dia' dan seseorang lain. Seseorang perempuan atau lelaki yang bahkan kamu tak mengenalnya. Sedang asik merajut sebuah cerita cinta tanpa melibatkan kamu didalamnya. Dan, kamu merasa sangat ingin meluapkan amarahmu, namun sayangnya kamu tak dibutuhkan dalam live show tersebut. Jadi, apa yang seharusnya kau lakukan? Berdiam diri menikmati dan menyaksikan live show yang sebenarnya menyiksa batinmu sendiri? Ataukah kau harus pergi keluar dari barisan penonton pertunjukkan? Sungguh ini pilihan yang menyulitkan.
Pernahkah kau tahu, Sayang, aku mengamatimu. Aku merindukan kenangan kita. Aku merindukan canda tawa kita, Sayang. Aku hanya mampu merindu, tapi aku takkan mampu untuk mengungkapkannya. Sungguh, terkutuklah perasaan ini!
Sayang, apakah kau tak pernah melihat betapa susah payahnya aku membangun istana cinta kita, walau sendirian? Apakah kau tak pernah tahu rasanya berjuang sendirian? Kalau saja aku boleh memilih, aku akan memilih menyerah dan pergi melupkanmu. Namun tampaknya hal itu cukup sulit bagiku, aku tidak akan membangun setengah jadi istana cinta kita.
Melihat kau bersamanya, melihat kau tersenyum seperti itu walau tanpaku, melihat kau yang masih sehat-sehat saja, melihat kau bahagia, rasanya aku pun ikut merasakan kebahagiaanmu. Ada kau di ujung pelupuk mataku pun saja aku sudah merasa senang karena bisa mengamatimu, ya, walau kutahu hanya dengan diam-diam saja. Tapi tak apa, aku sangat menikmati hobbyku itu.
Sayang... berjanjilah tetap tersenyum seperti itu. Aku sangat menyukai senyumanmu. Aku akan mengamatimu walau hanya sekedar menjadi pengagum rahasiamu. Semoga Allah selalu menjagamu, menjaga kita, menjaga kenangan kita, walau terhalang jarak dan waktu.
No comments:
Post a Comment