-SMA-
Hel, apa kabar? Aku boleh ngomong sesuatu? Aku merasa perasaanku seperti...seperti apa ya...aku juga tidak tahu. Mau ngomong apaan?
Sepuluh menit kemudian ada pesan masuk dari orang yang kutunggu kabarnya itu. Hel, maaf sebelumnya. Tapi aku nggak bisa kayak gini terus, aku pengen fokus, Hel. Kita udahin aja ya? Kita masih bisa jadi sahabat kan, Hel?
Disitu, hatiku bagaikan... ah sudahlah, pasti kalian tahu bagaimana jika : 'sudah mengerti dan memberikannya waktu luang untuk belajar, namun diputuskan begitu saja dengan alasan "Aku ingin fokus"'. Ah, sudahlah... Azka memang pantas memilih jalan kehidupannya sendiri. Dia pantas memilih masa depannya, daripada masa kininya. Mungkin aku memang harus mengerti Azka, dan memang aku juga harus fokus terhadap pelajaran di sekolah. Aku yang harus mengerti, iya! Harus aku.
Sudah dua minggu Azka lost contact denganku semenjak putus waktu itu. Aku mencoba menahan rasa rindu yang amat dalam. Aku yang memang kondisi kesehatannya lemah pun sering sakit dan berbaring di rumah sakit. Entah karena terlalu banyak memikirkan Azka, atau aku stress karena tugas sekolah yang tak henti-hentinya datang menghampiriku. Aku menunggu ucapan 'get well really soon' dari Azka, namun tampaknya dia tidak memperdulikan keadaanku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit ini.
Ketika itu aku sedang iseng meng-cek twitterku. Aku lihat Azka tampak perhatian sekali dengan gadis berkerudung putih itu, begitulah ava twitternya. Dia tampak manis dengan senyuman yang terukir di bibirnya, apalagi dia mengenakan kerudung. Sungguh, wanita itu cantik sekali. Aku mencoba berpikir positif, karena kata Azka dia hanya ingin fokus belajar karena alasan itu dia memisahkan hubungan kita, bukan karena gadis berkurudung itu.
Tapi... ternyata pikiran positifku salah. Azka diam-diam sedang menjalin suatu hubungan spesial dengan gadis itu. Aku pikir Azka adalah orang yang dingin terhadap perempuan, dulu saja aku sangat susah sekali untuk dekat dengannya. Ternyata, Azka sekarang adalah Azka yang berbeda. Dia menjadi genit, dan tebar pesona kepada wanita-wanita disekitarnya. Aku tidak menyangka Azka 'semurahan' itu. Lalu kuputuskan untuk tidak menghubunginya sama sekali, bahkan aku block twitternya agar keinginanku untuk jadi stalker ter-urungkan.
**
Sudah sebulan lebih, tepatnya hampir dua bulan aku tidak mengetahui bagaimana kabar Azka dengan kekasih barunya.
"Hel, gimana kabar lu?" tanya seorang sahabat karibku, Erika. Selama ini hanya Erika dan orangtuaku-lah yang merawatku selama sakit. Semenjak ditinggal pergi oleh Azka aku jadi lebih sering telat makan. Sampai-sampai aku tidak memikirkan kondisi badanku sendiri. Sungguh ironis, Azka yang sedang bersenang-senang sedangkan aku yang sedang merawat lukaku sendiri. Hanya sendirian, dan mungkin sahabat-sahabatku membantunya lewat do'a. "Ya, beginilah, Ka," jawabku. Hari ini aku sedang dirawat disebuah rumah sakit di daerah Tangerang. "Cepat sembuh ya, banyak anak-anak yang nanyain kabar elu tuh," katanya. "Iya, doain aja."
**
Hari ini aku masuk sekolah lagi, sudah seminggu aku tidak memasuki ruang kelas yang ramai seperti ini. Aku rindu ruang kelas ini, karena hanya disinilah aku bisa melupakan lukaku, bisa melupakan Azka dan kekasih barunya. Hari ini terlihat mendung sehingga aku harus mengenakan jaket tebal untuk menyelimuti tubuhku yang sedang kedinginan ini. "Sav, masih sakit? Nggak mau istirahat di UKS aja?" tanya Ilham yang menyadari bahwa mukaku memang agak pucat pasi. "Nggak usah, Ham. Gue gapapa kok." jawabku. "Tapi, lu bawa obat atau apa gitu?" tanya khawatir. "Bawa, tenang aja" seraya menyunggingkan senyumanku.
"Racheeeeeel." teriak Erika.
"Duh, berisik lu, Ka"
"Gimana bisa sekolah lagi?"
"Senenggggg banget hihi"
"Udah nggak galau gara-gara Azka, kan?"
"........."
"Hel, maaf pertanyaannya gini."
"Gapapa hahaha, eh gue nebeng dong. Nggak bawa motor."
"Yaudah, eh tapi...lu sakit apaan sih?"
"Anemia." jawabku singkat.
"Anemia?!"
"Yoikkkk..... Yaudah ayuk pulang"
".........."
Di sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Aku tidak tahu apa aku salah jika aku memberi tahu penyakitku selama ini padanya? Tapi, apakah anemia bisa menyebabkan kematian? Ah bodoh, tentu saja bisa. Aku pernah bertanya ini kepada dokterku. "Anemia bisa menyebabkan kematian. Kekurangan sel darah merah menyebabkan ketidakmampuan jantung mendistribusikan zat makanan dan oksigen ke otak. Hal tersebut dapat memicu kegagalan otak untuk memberikan perintah pada organ vital tubuh, kalau hal itu terjadi pada jantung dan paru-paru maka dapat mengakibatkan kematian." begitulah kata dokterku.
Keesokkan harinya aku mulai berangkat membawa motor sendiri, karena kupikir aku sudah tidak terlalu pusing untuk ke sekolah naik motor.
Waktu olahraga tiba...
"Hel, lu nggak apa-apa?" tanya Erika dengan nada khawatir
"Iyaa," desahku. Seketika kepalaku berat, dan pandanganku menjadi gelap...
**
Sudah dua minggu aku berada di rumah sakit yang membosankan ini. Aku ingin cepat pulang. Tapi mengapa tidak diperbolehkan? Apa salahku? Huh. "Ma, kenapa aku belum boleh pulang sih? Paling cuma anemianya yang kambuh, kan?" tanyaku. "Hm, kamu butuh waktu istirahat, Nak" jawab beliau.
Akhirnya sekian lama aku di rumah sakit, sekarang aku boleh pulang kerumah. Huh, aku merasa lebih bebas.
Saat aku baru saja merebahkan tubuhku di atas ranjang, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu.
"Nak, keluar sebentar Mama ingin bicara sama kamu," ucapnya dari luar. Lalu, ketika aku membuka pintu aku melihat Ibuku sendiri meneteskan air matanya di hadapanku. "Ma... Mamah kenapa? Kok nangis?". Beliau akhirnya menceritakan semuanya... Semuanya yang seharusnya kuketahui dari awal...
If you want to read the next story : http://savatiara.blogspot.com/2013/11/last-present-part-iv.html
No comments:
Post a Comment