Thursday, June 12, 2014

Sehelai Daun dan Angin

Pertama aku akan bercerita tentang kehidupan. Ah sok tahu, tahu apa aku tentang kehidupan? Aku hanyalah sehelai daun yang masih bisa tumbuh dan hidup karna ranting itu menggenggam lenganku erat. Tapi, akhir-akhir ini aku baru belajar tentang sebuah kehidupan.

Aku mengenalnya sebagai sosok yang paling menyejukkan. Dia yang selalu jenuh karena tidak dapat menampung lagi uap air lebih banyak, lalu uap tersebut berubah menjadi titik-titik air yang menyejukkanku, waktu dini hari atau subuh, saat udara cukup dingin. Aku mengenalnya sebagai 'Angin'.

Angin yang selalu berhembus tak mengenal waktu, selalu membuatku untuk berpegang erat pada ranting-ranting yang kuat itu. Tapi apa daya, aku selalu menyukai angin itu. Angin itulah yang selalu memelukku dingin, hanya dia yang bisa seperti itu.

Entah mengapa aku ingin sekali menyapa angin, membelainya lembut seperti apa yang dia lakukan tiap saat. Menari bersamanya di bawah rembulan. Namun, aku ditakdirkan untuk tidak mengenalnya. 'Berbahaya', kata ranting. Mengapa? Mengapa aku tidak boleh menggapainya seperti yang aku inginkan?

Angin itu membuatku memendam perasaan yang mungkin akan menjebak diriku sendiri. Aku sebagai sehelai daun yang hanya ingin hidup tenang, dengan angin yang tenang pula, tak bisa seperti itu terus. Hidup ini terlalu adil, bukan? Aku hanya sibuk merangkai semua kejadian di sekitarku untuk menceritakan semuanya pada angin. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatiku senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika aku tak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.

Pada akhirnya angin itu membawaku terbang bersama angan-angan yang telah kurajut sedemikian rupa. Tapi ranting bersedih, aku tidak mengerti. Tunggu, aku hanya belum mengerti, biarkanlah aku menari-nari di bawah awan biru itu, biarkanlah angin membawaku pergi jauh bersamanya.


Lalu angin membawaku kedasar tanah...
Tidak! Apa yang angin itu lakukan? Menjatuhkanku di tempat seasing ini, sendiri? Apa yang harus kulakukan? Bawalah aku terbang bersamamu wahai penyejuk pagiku, biarlah aku pergi bersamamu, kemanapun kau mau.

Tapi... ternyata angin itu tidak membawaku berkelana lagi.
Aku mencoba tak melawannya, mencoba ikhlas, tapi mengapa angin itu menjatuhkanku?
Huh... mungkin benar bahwa hidup harus tetap berlanjut, bagaimanapun keadaannya. Dia, penyejuk pagiku, membiarkan diriku jatuh begitu saja. Kali ini aku mengerti mengapa ranting bersedih saatku menari diselimuti awan biru kala itu...

Life is about taking risk. Ada suatu saat kita tidak dapat memilih yang terbaik. Ada masanya kita berbuat kesalahan, dan hanya penyesalan yang tertinggal. Namun, aku mencoba belajar mengikhlaskan ini semua. Mengikhlaskan angin yang telah menjatuhkanku ke dasar tanah. Selama dia bahagia, aku juga akan ikut bahagia. Sesederhana itu.

Biarlah angin itu pergi. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu pergi lagi?
Biarlah angin itu menari dengan daun-daun lainnya, dan semoga angin itu akan tetap menjaga daun yang lain untuk tetap menari bersamanya, di bawah rembulan, di bawah awan biru.

Sudahlah, sudah saatnya memberikan tempat untuk mengenang semua itu dengan baik.
Karena daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, bukan?

No comments:

Post a Comment